BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hipertensi
dan Diabetes Mellitus merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan
penanggulangan yang baik. Hipertensi merupakan penyakit yang terjadi akibat
peningkatan tekanan darah, seseorang dikatakan hipertensi apabila memiliki
tekanan darah > 140/90 mmHg (1).
Beberapa
pasien yang menderita hipertensi mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, sesak
nafas, kelelahan, mual, muntah, epistaktis, kesadaran menurun, kelemahan otot
atau perubahan mental. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara berkesinambungan
oleh keluarga maupun petugas kesehatan untuk meminimalkan komplikasi yang dapat
terjadi akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Data World Hypertention League Brochure (2003) menunjukkan bahwa
penderita hipertensi di dunia lebih dari 1,5 miliar jiwa, penggunaan garam yang
berlebih menjadi faktor utama dalam meningkatkan tekanan darah, berdasarkan
laporan dari University of Aucland New
Zealand menunjukkan lebih dari 80% penyakit hipertensi terjadi di Negara
berkembang termasuk Indonesia (1).
Hipertensi
sering merupakan kondisi asimptomatik. Penemuan kasus secara dini akan sangat
membantu dalam tindakan penatalaksanaan dan sebagai upaya untuk mencegah
kerusakan/kecacatan lebih lanjut. Salah satu cara yang paling tepat untuk dapat
menegakkan diagnosa hipertensi adalah dengan melakukan pengukuran tekanan
darah, baik secara langsung maupun tidak langsung (1).
Sedangkan
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang perlu
mendapat perhatian karena banyak komplikasi-komplikasi yang ditimbulkannya dan
merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. DM juga sering
dikenal dengan nama kencing manis atau penyakit gula. DM merupakan gejala yang
timbul pada diri seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan lukosa darah
akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relative (2).
Di
Indonesia, jumlah penyandang DM semakin tahun semakin menunjukkan peningkatan
yang sangat tinggi. Pada tahun 2000, jumlah penyandang di Indonesia sebanyak
8,4 juta jiwa dan diperkirakan akan mencapai 21,3 juta jiwa pada tahun 2030
nanti. Hal tersebut mengakibatkan Indonesia berada pada peringkat ke empat
jumlah penyandang DM di dunia setelah Amerika serikat, India, dan Cina menurut
Reputrawati dalam Hans (2008) (3).
Tingginya
prevalensi di Indonesia, dan perkiraan adanya peningkatan di tahun-tahun
mendatang menyebabkan perlunya antisipasi dan tindakan segera dalam
penatalaksanaan DM. Biaya penanganan DM sangat mahal, diagnosa dini adalah
satu-satunya cara untuk mengendalikan penyakit kronis ini. Oleh karena itu,
langkah awal yang perlu dilakukan yaitu mengukur kadar gula darah dalam tubuh
untuk mendeteksi penyakit tersebut (3).
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka pada kegiatan ini akan dilakukan bagaimana
cara mengukur tekanan darah dan kadar gula darah dalam tubuh seseorang dan
mencegah faktor risiko penyakit serta mempertahankan agar tekanan darah dan
kadar gula darah tersebut tetap normal.
B. Tujuan
Kegiata
1. Tujuan
Umum
Untuk
melakukan cara pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah pada responden di
kalangan dosen dan staff administrasi
2. Tujuan
Khusus
a. Untuk
mengetahui tekanan darah dan kadar gula darah dalam tubuh responden.
b. Untuk
mengetahui cara diagnosis dini dari penyakit hipertensi dan DM.
c. Untuk
mengetahui cara mencegah penyakit hipertensi dan DM serta mempertahankan
tekanan darah dan kadar gula darah normal.
d. Untuk
mengetahui persebaran penyakit hipertensi dan DM di kalangan dosen dan staf
administrasi Prodi Kesehatan Masyarakat.
C. Manfaat
Kegiatan
1. Bagi
Peneliti
a. Dapat
mengetahui cara pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah dalam tubuh.
b. Dapat
menambah pengalaman dan pengetahuan kepada penulis tentang bagaimana cara
mengetahui deteksi dini penyakit melalui tekanan darah dan kadar gula darah
dalam tubuh.
c. Dapat
memberikan gambaran dan informasi kepada responden tentang hasil dari kegiatan
pengukuran serta saran terkait masalah.
2 2. Bagi
Responden
Dapat
mengetahui tekanan darah dan kadar gula darah dalam tubuh yang dapat digunakan
sebagai ukuran untuk mengetahui adanya penyakit hipertensi atau Diabetes
Mellitus serta mendapat masukan/saran dalam hal mencegah dan menanggulangi
permasalahan yang muncul dari hasil pengukuran yang diperoleh.
BAB
II
METODOLOGI
A.
Objek
Kegiatan
Objek
kegiatan yang diambil adalah dari kelompok dosen dan staf administrasi PSKM FK
Unlam. Adapun sampel yang diambil adalah salah satu dosen PSKM berinisial D
yang berjenis kelamin perempuan.
B.
Instrumen
Kegiatan
Dalam
kegiatan ini instrument atau peralatan yang digunakan untuk pengambilan data
beserta pendukungnya adalah:
a. Stetoskop,
yaitu alat untuk mendengar detak jantung.
b. Spygmomanometer
jarum, yaitu alat untuk mengukur tekanan darah dalam tubuh.
c. Blood Glucose Test
Meter, yaitu alat untuk mengukur kadar gula
darah dalam tubuh.
d. Alkohol
digunakan untuk sterilisasi.
e. Kapas
digunakan untuk mengoleskan alkohol dan membersihkan darah.
f. Lembar
isian data dan alat tulis.
g. Kuesioner digunakan
untuk mengetahui identitas responden yang meliputi nama, kondisi kesehatan
serta mengetahui aktivitas responden.
C.
Prosedur
Kegiatan
Prosedur
yang dilakukan dalam kegiatan ini melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Pengukuran
Tekanan Darah
a. Mempersiapkan
lembar isian data objek kegiatan dan hasil pengukuran.
b. Mempersiapkan
peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran.
c. Memperkenalkan
diri, menyerahkan surat pengantar kegiatan, dan meminta persetujuan responden.
d. Mempersilahkan
responden untuk menggulung lengan baju dan mengusahakan responden dalam posisi
relaks.
e. Membalutkan
manset spygomomanometer dengan kencang dan lembut pada lengan atas responden.
f. Meraba
pembuluh darah arteri radialis pada pergelangan tangan responden untuk
menentukan tekanan maksimal pemompaan tekanan darah.
g. Menutup
skrup spygomomanometer kemudian memompa tekanan dalam manset sampai denyut
radial menghilang. Hilangnya denyutan menunjukkan bahwa tekanan sistolik darah
telah dilampaui dan arteri brakialis telah ditutup. Manset dikembangkan lagi
sebesar 20-30 mmHg di atas titik hilangnya denyutan radial.
h. Mengempiskan
manset secara perlahan, dan dilakukan pembacaan secara auskultasi untuk
mengukur tekanan diastolik dan sistolik secara akurat, serta palpasi yang hanya
dapat mengukur tekanan sistolik.
i.
Meraba pembuluh darah
arteri brakhialis pada lengan atas. Mengauskultasi tekanan darah, ujung
stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan pada arteri
brakhialis.
j.
Memompa manset sampai
patokan yang sudah didapat sebelumnya dan mengempiskan manset dengan kecepatan
2-3 mmHg per detik, sementara kita mendengar awitan bunyi berdetak , yang
menunjukkan tekanan darah sistolik sampai tekanan dalam manset turun di bawah
tekanan diastolik dan pada titik
tersebut bunyi akan menghilang.
k. Setelah
hasil diketahui, kita dapat mencatat hasil dan memberitahukan hasilnya kepada
responden.
l.
Mempersilahkan
responden untuk merapikan lengan bajunya dan memberikan masukan/saran terhadap
hasil yang didapat.
m. Mewawancarai
responden untuk pengisian kuesioner.
2. Pengukuran
Kadar Gula Darah
a. Mempersiapkan
lembar isian data objek kegiatan dan hasil pengukuran.
b. Mempersiapkan
peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran.
c. Meminta
persetujuan responden dan menanyakan jari mana yang bersedia untuk diperiksa.
d. Mengoleskan
alkohol pada jari yang diperiksa, mengurut jari agar darah terkumpul di ujung
jari.
e. Mengeluarkan
setetes darah dari jari dengan menggunakan alat tusuk kemudian memencet jari
untuk memperoleh tetesan darah yang diperlukan.
f. Menanamkan
tetesan darah pada celah dari kertas strip yang terpasang pada Blood Glucose Test Meter. Jangan lupa
membersihkan darah responden yang masih keluar.
g. Membaca
hasil dan memberitahukan hasil kepada responden serta dapat member
masukan/saran terhadap hasil yang didapat.
h. Mewawancari
responden untuk pengisian kuesioner.
i.
Merapikan alat, membuang
alat yang telah digunakan (jarum, kapas, kertas strip).
D.
Teknik
Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data
dalam kegiatan ini merupakan data primer yang diperoleh melalui pemeriksaan
langsung terhadap responden berupa pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah
serta dengan metode wawancara dengan menggunakan kuesioner.
E.
Waktu
dan Tempat Kegiatan
Kegiatan
ini dilakukan pada hari Jumat, 11 Mei 2012 di ruangan kantor PSKM Fakultas
Kedokteran UNLAM, Banjarbaru.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan dan Pengukuran
Dari hasil pengamatan dan pengukuran
responden didapat hasil tekanan darah 100/60 mmHg dan kadar gula darah 91
mg/dL. Adapun hasil kuesioner yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1.
Tinggi badan 158 cm dan berat
badan 55 kg.
2. Dalam keluarga responden tidak terdapat riwayat keluarga dengan
hipertensi, DM, ataupun penyakit lain seperti serangan jantung, stroke,
penyakit ginjal.
3. Responden tidak sering melakukan aktivitas fisik seperti olahraga dalam
seminggu dan tidak merokok.
4.
Responden mengkonsumsi sayur dan buah serta gula pasir 2-3 sendok makan
(sdm) setiap hari.
B.
Analisis
Berdasarkan
pengamatan dan pengukuran yang telah dilakukan peneliti terhadap responden
didapatkan hasil pengukuran tekanan darah sebesar 100/60 mmHg yaitu di bawah
batas tekanan darah normal 120/80 mmHg yang berarti tekanan darah responden
normal. Batasan tekanan darah bagi orang dewasa berdasarkan tekanan sistolik
dan diastolik seperti pada tabel 3.1. sebagai berikut (4):
Tabel 3.1. Level Tekanan Darah Dewasa
|
Kategori
|
Sistolik (mmHg)
|
Diastolik (mmHg)
|
|
Normal
|
<
120
|
<80
|
|
Prehipertensi
|
120-139
|
80-89
|
|
Hipertensi
|
140
atau lebih
|
90
atau lebih
|
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah terdiri dari faktor risiko yang
dapat dihindari dan faktor risiko yang tidak dapat dihindari. Faktor risiko
yang dapat dihindari yaitu obesitas, konsumsi garam berlebih, merokok, kopi,
dan alkohol. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dihindari yaitu faktor
genetik (5).
Data
yang didapat dari kuesioner menunjukkan bahwa keluarga responden tidak
mempunyai riwayat hipertensi ataupun riwayat penyakit lain seperti serangan
jantung, stroke, penyakit ginjal, dan Diabetes Mellitus. Tekanan darah
dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan kegiatan sehari-hari, dimana akan lebih
tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah saat beristirahat.
Aktivitas kerja responden setiap harinya adalah mengajar yang termasuk dalam
kategori ringan. Shift kerja responden terjadwal dengan jam kerja yang dimulai
dari pagi sampai siang. Responden juga tidak sering berolahraga dalam seminggu.
Hal terpenting yang mempengaruhi tekanan
darah adalah gizi seimbang dari makanan yang dikonsumsi. Tekanan darah
responden yang normal berhubungan dengan kebiasaan responden yang mengkonsumsi
sayur dan buah setiap hari. Berikut adalah komposisi makanan yang dianjurkan
(8):
Asupan garam (Natrium Chlorida) dapat
meningkatkan tekanan darah. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan asupan natrium + 1,8 gram/hari
dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4 mmHg dan diastolik 2 mmHg pada penderita hipertensi dan penurunan
lebih sedikit pada individu dengan
tekanan darah normal. Respon perubahan asupan garam terhadap tekanan darah
bervariasi diantara individu yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan juga
faktor usia. Disarankan asupan garam < 6 gram sehari atau kurang dari 1
sendok teh penuh (8).
Keadaan
pikiran juga berpengaruh terhadap tekanan darah sewaktu dilakukan pengukuran,
begitu juga ukuran tubuh. Apabila mempunyai ukuran tubuh yang termasuk obesitas
memungkinkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Berdasarkan hasil wawancara,
diketahui tinggi badan 158 cm dan berat badan 55 kg sehingga didapat hasil
Indeks Massa Tubuh (IMT) responden adalah 22,08 yang termasuk dalam kategori
normal dan tidak berisiko untuk mengalami peningkatan tekanan darah karena
berat badan berlebihan cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
daripada mereka yang kurus. Hal ini disebabkan karena tubuh orang yang memiliki
berat badan berlebih harus bekerja lebih keras untuk membakar kelebihan kalori
yang mereka konsumsi. Sebagian lainnya karena mereka cenderung mengkonsumsi garam
yang lebih banyak (5).
Dari
berbagai penelitian lain juga membuktikan bahwa kenaikan berat badan memang dapat
meningkatkan tekanan darah dan terjadinya hipertensi, walaupun pada program penurunan
berat badan. Penurunan tekanan darah dapat terjadi sebelum tercapai berat badan
yang diinginkan. Penurunan sistolik dan diastolik rata-rata per kg penurunan
berat badan adalah 1,6/1,1 mmHg. Sehingga dianjurkan untuk selalu menjaga berat
badan normal, untuk menghindari terjadinya hipertensi (8).
Pengukuran kadar gula darah responden menunjukkan
hasil sebesar 91 mg/dl (kadar gula darah sewaktu). Berdasarkan tabel 3.2 hasil
kadar gula darah responden termasuk kadar gula darah normal karena kurang dari
140 mg/dL. Kriteria penegakan diagnosis Diabetes Mellitus seperti pada tabel
3.2 sebagai berikut (6) :
Tabel 3.2. Kriteria Penegakan Diagnosis Diabetes Mellitus
|
|
Glukosa
Plasma Puasa
|
Glukosa
Plasma 2 jam setelah makan
|
|
Normal
|
< 100 mg/dl
|
<140 mg/dl
|
|
Pra-diabetes
IFG atau IGT
|
100-125 mg/dl
-
|
-
140-199 mg/dl
|
|
Diabetes
|
> 126
mg/dl
|
>
200mg/dl
|
Keadaan ini didukung dengan data
yang didapat dari kuisioner bahwa responden tidak mempunyai riwayat keluarga DM
dan tidak merokok. Responden juga mengkonsumsi sayur atau buah dan tidak
terlalu banyak mengkonsumsi gula pasir setiap harinya. Akan tetapi, responden
jarang beraktivitas fisik setiap minggunya. Aktivitas fisik berhubungan dengan
pengeluaran dan pemasukan energi/kalori. Pemasukan energi/kalori yang
berlebihan tanpa diseimbangkan dengan pengeluaran dapat mengakibatkan kegemukan
yang merupakan salah satu faktor risiko DM. Responden juga tidak termasuk
obesitas sesuai dengan perhitungan menggunakan Indeks
Massa Tubuh (IMT). Banyak metode
yang dapat dilakukan untuk menentukan kriteria obesitas pada seseorang, Salah
satunya adalah pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dihitung dengan
menggunakan rumus (7) :
IMT = Berat badan (kg) / Tinggi badan (m)2
Klasifikasi IMT menurut
WHO tahun 2004 yaitu ada 6 kategori. IMT <18,5 maka dikatakan kurus (underweight) dengan tingkat risiko
rendah. IMT 18,5-24,9 dikatakan berat badan normal dengan tingkat risiko
rata-rata. IMT 25-29,9 dikatakan berat badan berlebih (overweight) dengan tingkta risiko meningkat. IMT 30-34,9 dikatakan
obesitas kelas 1 dengan tingkat risiko sedang. IMT 35-39,9 dikatakan obesitas
kelas 2 dengan tingkat risiko berbahaya. Sedangkan IMT ≥ 40,0 dikatakan
obesitas kelas 3 (obesitas morbid) dengan tingkat risiko sangat berbahaya (7).
Perhitungan
Indeks Massa Tubuh (IMT) responden, sebagai berikut:
IMT = berat badan (kg) / tinggi badan (m)2
IMT = 55 / (1,58)2
IMT = 55 / 2,49
IMT = 22,08
Dari
hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa IMT responden termasuk dalam
kategori normal karena berada di antara IMT 18,5-24,9 dan tidak berisiko
mengalami Diabetes Mellitus.
Pola
makan sehat bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan berat badan ideal,
sehingga dianjurkan untuk menyeimbangkan asupan kalori dengan kebutuhan energi total dengan
membatasi konsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi dan makanan yang
memiliki kandungan gula dan lemak tinggi. Menu seimbang dapat disusun
berdasarkan perhitungan angka kecukupan gizi (AKG) dan aktivitas responden. AKG
setiap individu akan berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing. Untuk mengukur
AKG bagi orang dewasa secara cepat, kebutuhan kalori/energi dapat menggunakan
rumus sebagai berikut (9):
Tabel
3.3. Rumus Angka Kecukupan Gizi
|
Jenis Kelamin
|
Angka Kecukupan Gizi
(Kkal/hari)
|
|
Ringan
|
Sedang
|
Berat
|
|
Laki-laki
|
1,56 x
BMR
|
1,76 x
BMR
|
2,10 x
BMR
|
|
Perempuan
|
1,55 x
BMR
|
1,70 x
BMR
|
2,00 x
BMR
|
Prinsip
untuk menentukan Angka Kecukupan Energi didasarkan pada pengeluaran energi
dimana komponen Basal Metabolic Rate (BMR)
merupakan komponen utama. Nilai BMR ditentukan oleh berat dan susunan tubuh
serta umur dan jenis kelamin. Secara sederhana nilai BMR dapat ditaksir
berdasarkan rumus regresi linier sebagai berikut (9):
Tabel 3.4. Rumus Nilai BMR
|
Kelompok Umur (tahun)
|
BMR (Kkal/hari)
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
0-3
|
60,9
BB + 54
|
61,0
BB + 51
|
|
3-10
|
22,7
BB + 495
|
22,5
BB + 499
|
|
10-18
|
17,5
BB + 651
|
12,2
BB + 746
|
|
18-30
|
15,3
BB + 679
|
14,7
BB + 496
|
|
30-60
|
11,6
BB + 879
|
8,7
BB + 829
|
|
>60
|
13,5
BB + 487
|
10,5
BB +596
|
Contoh
menu seimbang untuk mempertahankan tekanan darah normal dan kadar gula normal
pada seorang perempuan berumur 23 tahun, tinggi badan 158, berat badan 55 kg,
tekanan darah 110/60 mmHg, kadar gula darah 91 mg/dL, aktivitas ringan dan IMT
22,08 dapat disusun berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG), perhitungannya
dapat dilihat sebagai berikut :
BB
Ideal = (TB – 100) – 10% (TB – 100)
= (158 – 100) – 10% (158 – 100)
= 52,2
Jadi, kebutuhan energi perempuan tersebut
adalah:
BMR
= (14,7 BB) + 496
= (14,7 x 55) + 496
= 1304,5
AKG
= 1,55 x BMR
= 1,55 x 1304,5
= 2021,975 Kkal
Total
kalori yang dibutuhkan dalam sehari adalah 2021,975 Kkal.
Kebutuhan
karbohidrat : 65% x 2021,975 = 1314,28
Kkal = 328,57 gram
Kebutuhan
protein : 20% x 2021,975 = 404,
395 Kkal = 101,1 gram
Kebutuhan
lemak : 15% x
2021,975 = 303,29 Kkal = 33,69 gram
Berdasarkan
perhitungan di atas, menu makan dapat disusun dengan pembagian makanan sehari
yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
3.5. Daftar Menu Makan yang Dianjurkan
|
Pembagian Makanan Sehari
|
|
Bahan Makanan
|
Berat (gram)
|
URT
|
|
Pagi : Nasi
Telor ayam/susu skim
Tempe/tahu
Sayuran
Jam 10.00:
Buah
Siang: Nasi
Daging/ayam
Tempe/tahu
Sayuran
Buah
Minyak untuk menggoreng
Jam 16.00:
Buah
Malam:
Nasi
Ikan
Tempe/tahu
Sayuran
Buah
Minyak uttuk menumis
|
100
55/45
50
100
100
100
50
50
100
100
15
200
100
50
50
100
150
15
|
¾ gls
1btr/3
sdk mkn
1 ptg
1 gls
1 ptg
besar
¾ gls
1 ptg
1 ptg
1 gls
1 ptg
bsr
1 sdm
2 ptg
besar
¾ gls
1 ptg
1 ptg
1 gls
1½ ptg
bsr
1 sdm
|
Sayuran
yang boleh dikonsumsi adalah sayuran dengan kandungan kalori rendah seperti
oyong, ketimun, kol, labu air, labu siam, lobak, sawi, rebung, selada, toge,
terong dan tomat (9).
Dari
pengamatan dan pengukuran yang dilakukan oleh kelompok, didapat hasil
persebaran penyakit hipertensi dan DM pada responden di kalangan dosen dan
staff administrasi yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
3.6. Hasil Persebaran Penyakit Hipertensi dan DM di Kalangan Dosen dan Staff
Administrasi
|
No
|
Inisial
Nama
|
Jenis
kelamin
|
Jenis
Pekerjaan
|
Umur (tahun)
|
Tekanan
darah (mmHg)
|
Kadar
gula dalam darah (mm/dl)
|
|
1
|
S
|
Perempuan
|
Administrasi PSKM
|
35
|
120/80
|
107
|
|
2
|
D
|
Perempuan
|
Dosen PSKM
|
23
|
110/60
|
91
|
|
3
|
I
|
Perempuan
|
Pegawai perpustakaan
|
54
|
140/90
|
102
|
|
4
|
D
|
Perempuan
|
Pegawai perpustakaan
|
39
|
100/70
|
128
|
|
5
|
A
|
Perempuan
|
Dosen PSKM
|
22
|
110/70
|
98
|
|
6
|
N
|
Perempuan
|
Dosen PSKM
|
27
|
110/70
|
92
|
|
7
|
R
|
Perempuan
|
Pegawai perpustakaan
|
30
|
100/70
|
100
|
|
8
|
R
|
Perempuan
|
Administrasi PSKM
|
24
|
110/90
|
135
|
|
9
|
A
|
Laki-laki
|
Staff PSKM
|
30
|
100/80
|
51
|
Berdasarkan tabel, dapat dijabarkan
responden yang menderita hipertensi hanya 1 orang (11,1%), prehipertensi 1
orang (11,1%), dan normal 7 orang (77,7%). Sedangkan responden yang menderita
DM tidak ada (100%) karena semua kadar gula responden normal.
C.
Solusi
dan Rekomendasi
Dari
hasil pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah responden diketahui bahwa
responden mempunyai tekanan darah normal dan kadar gula darah normal. Solusi
dan rekomendasi yang dapat diberikan untuk mengatasi tekanan darah rendah yaitu
dengan melakukan kegiatan
fisik dan olahraga teratur 2-3 kali seminggu sekurangnya 30 menit setiap kali
olahraga atau setiap hari jalan kaki untuk meningkatkan kebugaran, mencegah
kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta
memperlambat proses menua. Beberapa aktivitas yang penting dilakukan seperti
waktu istirahat atau tidur yang cukup, hiburan dan penyaluran hobi yang
seimbang dengan tugas dan kewajiban (8).
Mempertahankan
tekanan darah ideal pada 120/80 mmHg perlu menjadi perhatian tidak saja bagi
penderita hipertensi atau hipotensi melainkan juga oleh setiap orang. Dianjurkan
untuk tidak mengkonsumsi alkohol atau bahan makanan yang mengandung alkohol
karena dapat meningkatkan tekanan darah. Disamping itu alkohol juga dapat
menyebabkan kecanduan. Pemeriksaan tekanan darah secara teratur minimal 2
minggu sekali sangat perlu dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk mengontrol
tekanan darah dan mempertahankan tekanan darahnya dalam ambang batas normal.
Tekanan darah tinggi tidak dapat di
turunkan hingga normal seperti semula, akan tetapi pengontrolan ini dimaksudkan hanya untuk
mempertahankan tekanan darahnya agar tidak meningkat (8).
Untuk
pengukuran kadar gula darah responden hasilnya menunjukkan kadar gula darah normal sehingga
solusi yang perlu diberikan kepada responden adalah mempertahankan kadar gula
darah tersebut dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang sesuai dengan
kebutuhan dan makan teratur. Dianjurkan juga untuk mendapatkan dan
mempertahankan berat badan ideal (9).
Di antara berbagai opsi di atas, pencegahan
yang paling murah dan paling gampang di antaranya adalah olahraga. Olahraga
yang paling aman, ringan, murah dan mudah adalah berlari-lari (jogging). Waktu yang paling tepat untuk
berolahraga khususnya untuk mencegah diabetes adalah di pagi hari, sekitar
pukul enam sampai pukul Sembilan, karena udara bumi masih tidak terlalu banyak
tercampur oleh polutan (10).
Selain itu, konsumsi kopi dan teh dapat
meningkatkan sensitifitas insulin. Penelitian yang dilakukan oleh Arnlov (2004)
tentang konsumsi kopi pada orang sehat yang tidak menderita diabetes ternyata
memperlihatkan hasil yang menemukan bahwa konsumsi kopi dan teh dapat meningkatkan
sensitifitas insulin. Baik kopi maupun teh mengandung senyawa fenol yang
mempunyai aktivitas antioksidan (11) .