MAKALAH
SANITASI
DARURAT PASCA BENCANA
KASUS
BENCANA DAN
KEGIATAN
TANGGAP DARURAT
Oleh :
|
Azahra
Aisyadilla A.
|
I1A110004
|
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah, dan
ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sanitasi Perumahan
Pemukiman dan Tempat-Tempat Umum – Pencemaran Udara”.
Makalah ini
disusun guna memberikan informasi tambahan kepada para pembaca tentang
pencemaran udara, proses, mekanisme, permasalahan, akibat, dan
penanggulangannya.
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, dan
bantuan dari berbagai pihak. Tak hanya itu, penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang sumbernya berupa buku yang telah penulis jadikan
referensi guna penyusunan makalah ini, semoga dapat terus berkarya guna
menghasilkan tulisan-tulisan yang mengacu pada pencemaran udara.
Penulis
berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat berguna bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Tak ada
gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, maafkan jika banyak kekurangan dan kesalahan. Penulis setulus hati
menerima kritik dan saran yang membantu guna penyempurnaan makalah ini.
Banjarbaru, 17 April 2012
Penulis
BAB I
KASUS
Aceh Dilanda Gempa Besar 8,9 Skala Ritcher
Warga kepulauan Nias ikut merasakan gempa yang menghantam
wilayah Sumatera Utara, Aceh. Bahkan sebelum gempa berkekuatan 8,5 skala
richter itu terjadi, warga Nias merasakan gempa awalan sebelum akhirnya gempa
besar menyusul dalam beberapa menit kemudian. Sebelum gempa besar, warga
pertama kali mendapatkan gempa kecil dan pada gempa kedua yang hanya berselang
beberapa menit, dirasakan sangat besar goyangannya.
Gempa bumi berkekuatan 8,5 Skala Richter (SR) yang melanda
Aceh dan sekitarnya juga terasa hingga ke sebagian wilayah Singapura, Thailand
dan India. Warga-warga di negara-negara tersebut ikut panik dan berhamburan
keluar rumah. Seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (11/4/2012), gempa ini
dirasakan oleh warga yang berada di Bangkok, Thailand. Warga yang panik pun
berhamburan ke jalanan.
Gempa yang sangat kuat juga terasa di wilayah India bagian
selatan. Ratusan pekerja di wilayah Bangalore, India, bahkan terpaksa harus
meninggalkan gedung masing-masing. Sedangkan menurut Twitter, gempa ini juga
dirasakan di wilayah Singapura dan Malaysia. Bahkan dilaporkan bangunan
apartemen dan gedung perkantoran di wilayah pantai barat Malaysia berguncang
selama 1 menit. Menurut Pusat Peringatan Tsunami Wilayah Pasifik di Hawaii,
gempa ini berpotensi tsunami. Diperkirakan tsunami akan berdampak di wilayah
Indonesia, India, Sri Lanka, Australia, Myanmar, Thailand, Kepulauan Maldives,
wilayah Samudera Hindia lainnya, Malaysia, Pakistan, Somalia, Oman, Iran,
Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan dan Singapura.
Otoritas Malaysia juga mengeluarkan peringatan tsunami menyusul
gempa bumi berkekuatan 8,5 SR yang mengguncang Aceh. Penduduk di sepanjang
pantai barat Malaysia diserukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sebelumnya, otoritas India, Sri Lanka dan Thailand juga telah mengeluarkan
peringatan tsunami menyusul gempa 8,5 SR di Simeuleu, Aceh yang terjadi pada
pukul 15.38 WIB. Peringatan tsunami di Thailand bahkan telah diperluas untuk 6
provinsi dari sebelumnya 2 provinsi saja. Sementara pusat manajemen bencana Sri
Lanka telah menyerukan penduduk pantai untuk bergerak ke daerah-daerah yang
lebih tinggi. Ini sebagai pencegahan jika terjadi gelombang tsunami. Disebutkan
bahwa gelombang tsunami bisa menjangkau wilayah pantai timur Sri Lanka dalam
waktu dekat. Otoritas Sri Lanka pun menyerukan evakuasi warga dari jalur-jalur
pantai.
BAB
II
KEGIATAN
TANGGAP DARURAT
Tanggap darurat adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian. Menangani
dampak buruk meliputi kegiatan seperti penyelamatan dan evakuasi korban serta harta
benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan dan pengurusan pengungsi,
penyelamatan serta pemulihan sarana prasarana. Kegiatan tanggap darurat yang
dapat dilakukan dalam menanggapi masalah bencana ini yaitu:
1.
Pembentukan
pos komando dan koordinasi tanggap darurat
Untuk jenis
bencana yang terjadi secara tiba–tiba, Pembentukan Pos Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana
dilakukan melalui 4 (empat) tahapan yang harus dilaksanakan secara keseluruhan
menjadi satu rangkaian sistem komando dan koordinasi yang terpadu, yaitu :
a. Informasi dan Data Awal Kejadian
Bencana
Informasi
awal data kejadian bencana bisa didapatkan melalui beberapa sumber antara lain: Laporan Instansi/Lembaga
terkait, media massa, masyarakat dan
internet. Kebenaran informasi perlu dikonfirmasi dilapangan dengan pertanyaan apa, kapan, dimana,
bagaimana kondisi, berapa jumlah korban, akibat yang ditimbulkan, upaya yang
telah dilakukan, dan kebutuhan bantuan yang harus segera diberikan.
b.
Penugasan Tim Reaksi Cepat dan Tim Assesment
Dari
informasi kejadian awal yang diperoleh, LPB Wilayah dan atau LPB PP menugaskan
Tim Reaksi Cepat tanggap darurat (Rumah sakit DMC dan SAR) dan Tim Assesment, untuk melaksanakan
tugas kedaruratan (pertolongan medis dan
SAR), Tim Assesment melakukan pengkajian secara cepat dan tepat, Melakukan pemetaan lokasi
bencana dan camp pengungsian serta
memberikan dukungan pendampingan dalam rangka kegiatan tanggap darurat. Hasil
pelaksanaan tugas Tim Reaksi cepat dan Tim assessment merupakan bahan pertimbangan bagi LPB/MDMC mengambil keputusan
utk melakukan tindakan berikutnya
(menentukan lokasi PosKo Lapangan untuk pendampingan dan pelayanan) dan
menyediakan bantuan sesuai dengan kapasitas bencana yang terjadi.
c.
Menentukan skala bencana dan Analisa kemampuan wilayah / Daerah
Berdasar
dari hasil laporan tim reaksi cepat dan kajian tim assessment ditentukan skala
bencana berdasar kemampuan organisasi LPB setempat dan kondisi kerusakan serta pemetaan
korban, untuk bencana skala nasional komando diambil alih LPB PP, untuk skala
bencana Propinsi komando dipegang LPB
Wilayah, untuk skala bencana Daerah komando dipegang LPB daerah.
d.
Pembentukan Pos Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana
Sesuai
dengan status dan skala bencana yang telah ditentukan maka LPB PP / LPB Wilayah/LPB
Daerah atas persetujuan Pimpinan Pusat/Pimpinan Wilayah/Pimpinan Daerah sesuai tingkat kewenangan dan status/skala
bencana :
1. Mengeluarkan surat
keputusan Pembentukan Pos
Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana.
2. Melaksanakan Mobilisasi sumber daya manusia,
perlatan dan logistic serta dana dari semua unsur potensi yang dimiliki Muhammdiyah,
Majelis / lembaga lain atau masyarakat donator.
3. Meresmikan
Pembentukan Pos Komando
dan Koordinasi Tanggap
Darurat Bencana.
4. Bilamana
di Pimpinan wilayah
atau Pimpinan Daerah
belum terbentu LPB/MDMC,
maka yang melaksanakan
Pembentukan Pos Komando
dan Koordinasi Tanggap Darurat
Bencana adalah Pimpinan
Wilayah atau Pimpinan
Daerah membentuk dan menunjuk Tim Tanggap Darurat menangani
bencana.
2.
Pencarian
dan penyelamatan korban
Evakuasi dan
penyelematan meliputi kegiatan pencarian korban, mengangkut korban ke lokasi
yang lebih aman, korban yang sakit ke pos kesehatan serta memakamkan yang
meninggal. Kegiatan ini dilakukan bersama team SAR, TNI, POLRI, PMI, Relawan
yang bergerak bidang evakuasi dan penyelamatan. Setelah korban berhasil
ditemukan, hal yang dapat dilakukan selanjutnya adalah:
a.
Pemeriksaan status kesehatan korban.
b.
Memberikan pertolongan pertama.
c.
Mempersiapkan korban untuk tindakan
rujukan.
3.
Penampungan
sementara
Perlu upaya
tempat penampungan sementara bagi korban yang masih hidup dan kehilangan tempat
tinggal sementara seperti bangunan beratap yang mempunyai ruangan besar al.
Sekolah, aula, gudang, stadion. Apabila tempat tersebut sulit ditemukan, maka
yang digunakan adalah lapangan terbuka yang kemudian dibangun tenda-tenda
darurat yang menampung 30 orang dalam 1 tenda.
4.
Penilaian
cepat kesehatan (RHA)
Penilaian
cepat kesehatan (RHA) dilakukan untuk mengetahui besaran masalah kesehatan yang
dihadapi dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah bencana. Hasil penilaian
cepat ini dapat digunakan untuk memantapkan berbagai upaya kesehatan pada tahap
tanggap darurat. Penilaian cepat masalah kesehatan pada
kejadian bencana juga adalah serangkaian kegiatan pengkajian berupa pengumpulan
data yang ada pada saat terjadi bencana. Data-data tersebut penting dikumpulkan
untuk informasi selanjutnya. Data juga diukur besarnya masalah yang berkaitan dengan
masalah kesehatan akibat bencana.
Lingkup
penilaiannya meliputi a) Aspek medis, untuk menilai dampak pelayanan medis
terhadap korban dan potensi pelayanan kesehatan.b) Aspek Epidemiologi,
untukmenilaipotensimunculnya kejadian luar biasa penyakit menular dan gizi pada
periode pasca kejadian. c) Aspek kesehatan lingkungan , untuk menilai masalah
yang berkaitan dengan sarana kesehatan lingkungan yang diperlukan bagi
pengungsi dan potensi yang dimanfaatkan. Untuk melengkapi data yang dapat
dilihat dan diukur juga dapat ditambah dengan melakukan wawancara dengan
pejabat tokoh masyarakat dan masyarakat setempat .
5.
Memfungsikan
poskeslap, rumkitlap dan yankes
Fungsi poskeslap, rumkitlap, dan
pelayanan kesehatan bergerak bila diperlukan.
6.
Pelayanan
kesehatan rujukan
Pelayanan
Kesehatan diberikan melalui Pos-pos Kesehatan dan Puskesmas, Rumah Sakit
rujukan yang telah ditetapkan Pemerintah dan diberikan secara Cuma-Cuma kepada
para korban bencana baik yang rawat inap maupun rawat jalan berikut obatnya.
Perlu juga adanya team relawan bidang kesehatan pada tahap tanggap darurat.
7.
Pelayanan
kesehatan darurat
Pelayanan
kesehatan darurat sangat diperlukan dalam menangani masalah kesehatan yang
timbul akibat dari bencana alam serta mencegahnya agar tidak timbul masalah
kesehatan yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Hal yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan berbagai pengobatan dan persiapan terhadap suatu
penyakit yang mungkin dialami pengungsi selama di pengungsian. Kita juga dapat
melakukan pemantauan status gizi dan menanganinya apabila terdapat kasus gizi
kurang. Air bersih digunakan untuk keperluan air minum, MCK. Air bersih
diperoleh dengan mengalirkan air sungai terdekat, atau diangkut dengan truk
tangki, bisa juga melakukan pengeboran tanah. Keperluan kamar mandi, MCK serta
pembuangan sampah sangat vital. Pembangunan MCK harus dibuat sesuai kebiasaan
masyarakat setempat. Pengelolaan sampah rumah tangga harus mudah dapat
dilakukan oleh masyarakat pengungsi itu sendiri. Kesehatan lingkungan pun perlu
dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sarang vector penyakit dan sebagainya. Menjamin
kebersihan (Kesling) seperti kamar kecil sederhana dan sehat. Manajemen
pengaliran air, manajemen sampah, serta hal lain yang yang dapat mengganggu
kesehatan.
8.
Mobilisasi
bantuan kesehatan, pangan, dan bantuan sosial
Kebutuhan pangan
bagi korban bencana sangat penting. Mempersiapkan bahan-bahan keperluan untuk
sehari-hari seperti beras, sagu, air, minyak tanah, lampu, indomie, telur,
pakaian, kelambu, obat2an dan kebutuhan lain yang dianggap tidak akan didapat
ketika hal terburuk terjadi dan barang2 tersebut harus tersimpan dengan baik.
9.
Surveilans
epidemiologi
Surveilans
epidemiologi diperlukan untuk pengumpulan data epidemiologi dalam mengetahui
penyakit-penyakit yang timbul akibat dari bencana dan akan digunakan sebagai
dasar dari penanggulangan penyakit tersebut.
10. Penanganan Post Traumatic Stress
Post Traumatic Stress ini diperlukan dalam mengatasi
trauma atau stress yang dialami oleh korban bencana. Dalam hal ini kita dapat
melakukan kegiatan trauma healing yang dihiasi aneka hiburan seperti senam
pagi, panggung gembira, pertunjukkan seni, dan lain-lain yang dapat menghibur
para korban.
11. Pelayanan Masyarakat
Perlu adanya
sarana komunikasi dan informasi berupa telephone umum, radio, TV yang
dioperasikan dengan baterai atau generator listrik sangat membantu memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
12. Pendidikan
Kelangsungan
proses belajar bagi para siswa yang terkena musibah bencana dapat dilakukan
dengan cara menyisipkan pada sekolah terdekat dengan tempat pengungsian, atau
mendirikan sekolah tenda berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.
13. Logistik dan Transportasi
Dukungan
Logistik sangat diperlukan pada tahap tanggap darurat, Keberadaan gudang
penyimpanan logistik dan peralatan sangat penting dan strategis, karena akan
banyak barang yang keluar masuk.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Yuliati,
Sri. Tanggap Darurat Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Dinas Kelautan
dan Perikanan Jawa Tengah. 2010.
2. Anonym.
Tanggap Darurat Gunung Lokon. Kepolisian Negara Republik Indonesia Biro Operasi
Daerah Sumatera Utara.
3. Herlina,
Sri. 2010. Buku Ajar Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kedokteran
Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
4. Notoatmodjo,
Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineka Cipta: Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar