Sabtu, 01 Desember 2012

SANITASI DARURAT PASCA BENCANA KASUS BENCANA DAN KEGIATAN TANGGAP DARURAT


MAKALAH
SANITASI DARURAT PASCA BENCANA
KASUS BENCANA DAN
KEGIATAN TANGGAP DARURAT






 

Oleh :
Azahra Aisyadilla A.
 I1A110004





PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012
 
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah, dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sanitasi Perumahan Pemukiman dan Tempat-Tempat Umum – Pencemaran Udara”.
Makalah ini disusun guna memberikan informasi tambahan kepada para pembaca tentang pencemaran udara, proses, mekanisme, permasalahan, akibat, dan penanggulangannya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, dan bantuan dari berbagai pihak. Tak hanya itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sumbernya berupa buku yang telah penulis jadikan referensi guna penyusunan makalah ini, semoga dapat terus berkarya guna menghasilkan tulisan-tulisan yang mengacu pada pencemaran udara.
Penulis berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Tak ada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maafkan jika banyak kekurangan dan kesalahan. Penulis setulus hati menerima kritik dan saran yang membantu guna penyempurnaan makalah ini.

Banjarbaru, 17 April 2012


Penulis

 

 

 

BAB I

KASUS

 

Aceh Dilanda Gempa Besar 8,9 Skala Ritcher

 

Warga kepulauan Nias ikut merasakan gempa yang menghantam wilayah Sumatera Utara, Aceh. Bahkan sebelum gempa berkekuatan 8,5 skala richter itu terjadi, warga Nias merasakan gempa awalan sebelum akhirnya gempa besar menyusul dalam beberapa menit kemudian. Sebelum gempa besar, warga pertama kali mendapatkan gempa kecil dan pada gempa kedua yang hanya berselang beberapa menit, dirasakan sangat besar goyangannya.
Gempa bumi berkekuatan 8,5 Skala Richter (SR) yang melanda Aceh dan sekitarnya juga terasa hingga ke sebagian wilayah Singapura, Thailand dan India. Warga-warga di negara-negara tersebut ikut panik dan berhamburan keluar rumah. Seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (11/4/2012), gempa ini dirasakan oleh warga yang berada di Bangkok, Thailand. Warga yang panik pun berhamburan ke jalanan.
Gempa yang sangat kuat juga terasa di wilayah India bagian selatan. Ratusan pekerja di wilayah Bangalore, India, bahkan terpaksa harus meninggalkan gedung masing-masing. Sedangkan menurut Twitter, gempa ini juga dirasakan di wilayah Singapura dan Malaysia. Bahkan dilaporkan bangunan apartemen dan gedung perkantoran di wilayah pantai barat Malaysia berguncang selama 1 menit. Menurut Pusat Peringatan Tsunami Wilayah Pasifik di Hawaii, gempa ini berpotensi tsunami. Diperkirakan tsunami akan berdampak di wilayah Indonesia, India, Sri Lanka, Australia, Myanmar, Thailand, Kepulauan Maldives, wilayah Samudera Hindia lainnya, Malaysia, Pakistan, Somalia, Oman, Iran, Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan dan Singapura.
Otoritas Malaysia juga mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa bumi berkekuatan 8,5 SR yang mengguncang Aceh. Penduduk di sepanjang pantai barat Malaysia diserukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebelumnya, otoritas India, Sri Lanka dan Thailand juga telah mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa 8,5 SR di Simeuleu, Aceh yang terjadi pada pukul 15.38 WIB. Peringatan tsunami di Thailand bahkan telah diperluas untuk 6 provinsi dari sebelumnya 2 provinsi saja. Sementara pusat manajemen bencana Sri Lanka telah menyerukan penduduk pantai untuk bergerak ke daerah-daerah yang lebih tinggi. Ini sebagai pencegahan jika terjadi gelombang tsunami. Disebutkan bahwa gelombang tsunami bisa menjangkau wilayah pantai timur Sri Lanka dalam waktu dekat. Otoritas Sri Lanka pun menyerukan evakuasi warga dari jalur-jalur pantai.




BAB II
KEGIATAN TANGGAP DARURAT

Tanggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian. Menangani dampak buruk meliputi kegiatan seperti penyelamatan dan evakuasi korban serta harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan dan pengurusan pengungsi, penyelamatan serta pemulihan sarana prasarana. Kegiatan tanggap darurat yang dapat dilakukan dalam menanggapi masalah bencana ini yaitu:
1.      Pembentukan pos komando dan koordinasi tanggap darurat
Untuk jenis bencana yang terjadi secara tiba–tiba, Pembentukan Pos Komando  dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana dilakukan melalui 4 (empat) tahapan yang harus dilaksanakan secara keseluruhan menjadi satu rangkaian sistem komando dan koordinasi yang terpadu, yaitu :       
                        a. Informasi dan Data Awal Kejadian Bencana 
Informasi awal data kejadian bencana bisa didapatkan melalui beberapa  sumber antara lain: Laporan Instansi/Lembaga terkait, media massa,  masyarakat dan internet. Kebenaran informasi perlu dikonfirmasi dilapangan  dengan pertanyaan apa, kapan, dimana, bagaimana kondisi, berapa jumlah korban, akibat yang ditimbulkan, upaya yang telah dilakukan, dan kebutuhan bantuan yang harus segera diberikan. 
b.   Penugasan Tim Reaksi Cepat dan Tim Assesment 
Dari informasi kejadian awal yang diperoleh, LPB Wilayah dan atau LPB PP menugaskan Tim Reaksi Cepat tanggap darurat (Rumah sakit DMC dan  SAR) dan Tim Assesment, untuk melaksanakan tugas kedaruratan  (pertolongan medis dan SAR), Tim Assesment melakukan pengkajian secara  cepat dan tepat, Melakukan pemetaan lokasi bencana dan camp pengungsian  serta memberikan dukungan pendampingan dalam rangka kegiatan tanggap darurat. Hasil pelaksanaan tugas Tim Reaksi cepat dan Tim assessment  merupakan bahan pertimbangan bagi LPB/MDMC mengambil  keputusan  utk  melakukan tindakan berikutnya (menentukan lokasi PosKo Lapangan untuk pendampingan dan pelayanan) dan menyediakan bantuan sesuai dengan kapasitas bencana yang terjadi.
c.   Menentukan skala bencana dan Analisa kemampuan wilayah / Daerah 
Berdasar dari hasil laporan tim reaksi cepat dan kajian tim assessment ditentukan skala bencana berdasar kemampuan organisasi LPB setempat dan kondisi kerusakan serta pemetaan korban, untuk bencana skala nasional komando diambil alih LPB PP, untuk skala bencana Propinsi komando dipegang LPB Wilayah, untuk skala bencana Daerah komando dipegang LPB daerah.
d.   Pembentukan Pos Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana 
Sesuai dengan status dan skala bencana yang telah ditentukan maka LPB PP / LPB Wilayah/LPB Daerah atas persetujuan Pimpinan Pusat/Pimpinan Wilayah/Pimpinan Daerah sesuai tingkat kewenangan dan status/skala bencana : 
1. Mengeluarkan  surat  keputusan  Pembentukan  Pos  Komando  dan  Koordinasi Tanggap Darurat Bencana. 
2.  Melaksanakan Mobilisasi sumber daya manusia, perlatan dan logistic serta dana dari semua unsur potensi yang dimiliki Muhammdiyah, Majelis / lembaga lain atau masyarakat donator. 
3.  Meresmikan   Pembentukan   Pos   Komando   dan   Koordinasi   Tanggap  Darurat Bencana. 
4.  Bilamana  di  Pimpinan  wilayah  atau  Pimpinan  Daerah  belum  terbentu  LPB/MDMC,  maka  yang  melaksanakan  Pembentukan  Pos  Komando  dan  Koordinasi Tanggap  Darurat  Bencana  adalah  Pimpinan  Wilayah  atau  Pimpinan  Daerah membentuk dan menunjuk Tim Tanggap Darurat menangani bencana.   

2.      Pencarian dan penyelamatan korban
Evakuasi dan penyelematan meliputi kegiatan pencarian korban, mengangkut korban ke lokasi yang lebih aman, korban yang sakit ke pos kesehatan serta memakamkan yang meninggal. Kegiatan ini dilakukan bersama team SAR, TNI, POLRI, PMI, Relawan yang bergerak bidang evakuasi dan penyelamatan. Setelah korban berhasil ditemukan, hal yang dapat dilakukan selanjutnya adalah:
            a.       Pemeriksaan status kesehatan korban.
            b.      Memberikan pertolongan pertama.
            c.       Mempersiapkan korban untuk tindakan rujukan.

3.      Penampungan sementara
Perlu upaya tempat penampungan sementara bagi korban yang masih hidup dan kehilangan tempat tinggal sementara seperti bangunan beratap yang mempunyai ruangan besar al. Sekolah, aula, gudang, stadion. Apabila tempat tersebut sulit ditemukan, maka yang digunakan adalah lapangan terbuka yang kemudian dibangun tenda-tenda darurat yang menampung 30 orang dalam 1 tenda.

4.      Penilaian cepat kesehatan (RHA)
Penilaian cepat kesehatan (RHA) dilakukan untuk mengetahui besaran masalah kesehatan yang dihadapi dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah bencana. Hasil penilaian cepat ini dapat digunakan untuk memantapkan berbagai upaya kesehatan pada tahap tanggap darurat. Penilaian cepat masalah kesehatan pada kejadian bencana juga adalah serangkaian kegiatan pengkajian berupa pengumpulan data yang ada pada saat terjadi bencana. Data-data tersebut penting dikumpulkan untuk informasi selanjutnya. Data juga diukur besarnya masalah yang berkaitan dengan masalah kesehatan akibat bencana.
Lingkup penilaiannya meliputi a) Aspek medis, untuk menilai dampak pelayanan medis terhadap korban dan potensi pelayanan kesehatan.b) Aspek Epidemiologi, untukmenilaipotensimunculnya kejadian luar biasa penyakit menular dan gizi pada periode pasca kejadian. c) Aspek kesehatan lingkungan , untuk menilai masalah yang berkaitan dengan sarana kesehatan lingkungan yang diperlukan bagi pengungsi dan potensi yang dimanfaatkan. Untuk melengkapi data yang dapat dilihat dan diukur juga dapat ditambah dengan melakukan wawancara dengan pejabat tokoh masyarakat dan masyarakat setempat .

5.      Memfungsikan poskeslap, rumkitlap dan yankes
Fungsi poskeslap, rumkitlap, dan pelayanan kesehatan bergerak bila diperlukan.

6.      Pelayanan kesehatan rujukan
Pelayanan Kesehatan diberikan melalui Pos-pos Kesehatan dan Puskesmas, Rumah Sakit rujukan yang telah ditetapkan Pemerintah dan diberikan secara Cuma-Cuma kepada para korban bencana baik yang rawat inap maupun rawat jalan berikut obatnya. Perlu juga adanya team relawan bidang kesehatan pada tahap tanggap darurat.

7.      Pelayanan kesehatan darurat
Pelayanan kesehatan darurat sangat diperlukan dalam menangani masalah kesehatan yang timbul akibat dari bencana alam serta mencegahnya agar tidak timbul masalah kesehatan yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan berbagai pengobatan dan persiapan terhadap suatu penyakit yang mungkin dialami pengungsi selama di pengungsian. Kita juga dapat melakukan pemantauan status gizi dan menanganinya apabila terdapat kasus gizi kurang. Air bersih digunakan untuk keperluan air minum, MCK.  Air bersih diperoleh dengan mengalirkan air sungai terdekat, atau diangkut dengan truk tangki, bisa juga melakukan pengeboran tanah. Keperluan kamar mandi, MCK serta pembuangan sampah sangat vital. Pembangunan MCK harus dibuat sesuai kebiasaan masyarakat setempat. Pengelolaan sampah rumah tangga harus mudah dapat dilakukan oleh masyarakat pengungsi itu sendiri. Kesehatan lingkungan pun perlu dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sarang vector penyakit dan sebagainya. Menjamin kebersihan (Kesling) seperti kamar kecil sederhana dan sehat. Manajemen pengaliran air, manajemen sampah, serta hal lain yang yang dapat mengganggu kesehatan.

8.      Mobilisasi bantuan kesehatan, pangan, dan bantuan sosial
Kebutuhan pangan bagi korban bencana sangat penting. Mempersiapkan bahan-bahan keperluan untuk sehari-hari seperti beras, sagu, air, minyak tanah, lampu, indomie, telur, pakaian, kelambu, obat2an dan kebutuhan lain yang dianggap tidak akan didapat ketika hal terburuk terjadi dan barang2 tersebut harus tersimpan dengan baik.

9.      Surveilans epidemiologi
Surveilans epidemiologi diperlukan untuk pengumpulan data epidemiologi dalam mengetahui penyakit-penyakit yang timbul akibat dari bencana dan akan digunakan sebagai dasar dari penanggulangan penyakit tersebut.

10.  Penanganan Post Traumatic Stress
Post Traumatic Stress ini diperlukan dalam mengatasi trauma atau stress yang dialami oleh korban bencana. Dalam hal ini kita dapat melakukan kegiatan trauma healing yang dihiasi aneka hiburan seperti senam pagi, panggung gembira, pertunjukkan seni, dan lain-lain yang dapat menghibur para korban.
 
11.  Pelayanan Masyarakat
Perlu adanya sarana komunikasi dan informasi berupa telephone umum, radio, TV yang dioperasikan dengan baterai atau generator listrik sangat membantu memberikan pelayanan kepada masyarakat.

12.  Pendidikan
Kelangsungan proses belajar bagi para siswa yang terkena musibah bencana dapat dilakukan dengan cara menyisipkan pada sekolah terdekat dengan tempat pengungsian, atau mendirikan sekolah tenda berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.

13.  Logistik dan Transportasi
Dukungan Logistik sangat diperlukan pada tahap tanggap darurat, Keberadaan gudang penyimpanan logistik dan peralatan sangat penting dan strategis, karena akan banyak barang yang keluar masuk.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Yuliati, Sri. Tanggap Darurat Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah. 2010.
2.      Anonym. Tanggap Darurat Gunung Lokon. Kepolisian Negara Republik Indonesia Biro Operasi Daerah Sumatera Utara.
3.      Herlina, Sri. 2010. Buku Ajar Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
4.      Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineka Cipta: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar