Masa remaja merupakan salah satu periode dari
perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan
psikologik, dan perubahan sosial. Masa remaja sering disebut juga sebagai masa
pancaroba, masa krisis, dan masa pencarian identitas. Dalam usahanya mencari
identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai
mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai sendiri yang berbeda
dengan orang tuanya.
Sebenarnya
mereka belum cukup mampu untuk berdiri sendiri karena masih dalam masa
peralihan. Oleh karena itu, sering mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan
yang menyimpang dari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja. Salah satu
bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku seksual remaja pranikah.
Pada zaman sekarang ini, perilaku remaja sangat
memprihatinkan masyarakat Indonesia. Sebenarnya perilaku seksual remaja
pranikah sudah ada sejak dulu. Akan tetapi, informasi tentang perilaku tersebut
cenderung tidak terungkap secara luas. Sekarang kondisi masyarakat telah
berubah, dengan telah makin terbukanya arus informasi, makin banyak pula
penelitian atau studi yang mengungkap permasalahan perilaku seksual remaja,
termasuk hubungan seksual pranikah. Berbagai kasus dan hasil penelitian
menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran nilai-nilai tersebut.
Apabila
di Amerika anak muda berusia 15-24 tahun melakukan hubungan seksual rata-rata
pada usia 15 tahun bagi laki-laki dan usia 17 tahun bagi perempuan, sedangkan
di Indonesia satu dari lima anak pertama yang dilahirkan oleh wanita menikah
pada usia 20-24 tahun merupakan anak hasil hubungan seksual sebelum menikah.
Maraknya pemberitaan di media massa mengenai percum, kupu-kupu muda, perek
kampus, dan berbagai istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan perilaku
seksual remaja, terutama remaja pranikah, juga menunjukkan semakin permisifnya
perilaku seksual remaja. Tidak tepat dan tidak benarnya informasi mengenai
seksual dan reproduksi yang mereka terima semakin membuat runyam masalah
perilaku seksual remaja pranikah ini.
Di
Indonesia sendiri ada beberapa penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku
seksual remaja pranikah. Pada tahun 1989 penelitian yang dilakukan oleh Fakultas
Psikologi UI menunjukkan bahwa ada 61,0% anak usia 16-20 tahun pernah melakukan
seksual intercouse (sanggama) dengan
temannya. Dan suatu penelitian terhadap siswa SMTP di Bandung, ternyata
terdapat 10,53% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir, 5,60% pernah
melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah melakukan hubungan seksual.
Penelitian
lain yang dilakukan oleh sebuah majalah mingguan Ibu Kota dengan responden 100
orang pelajar dari 26 SMA di Jakarta, menunjukkan bahwa 41,0% pelajar mengaku
pernah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Di samping responden tadi,
ada 42,0% yang pernah berciuman, 4,0% pernah meraba alat vital, dan 12,0%
pernah menyenggol, memegang, meraba, membelai bagian tubuh yang peka milik
lawan jenisnya. Hanya 1,0% saja yang tidak mempunyai pengalaman seks dengan
lawan jenis. Walaupun masih diperdebatkan keabsahan hasil penelitian tersebut
paling tidak data di atas mengingatkan kita betapa besarnya masalah perilaku
seks pada remaja kita.
Bila
kita lihat kecenderungan perilaku seksual remaja pranikah berdasarkan tempat
tinggal mereka, ternyata baik di desa maupun di kota perilaku tersebut juga
sangat memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Faturochman dan Soetjipto
di Bali (1989) menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki di desa dan di
kota yang telah melakukan hubungan seks masing-masing adalah 23,6% dan 33,5%.
Penelitian dilakukan oleh Laboratorium Antropologi FISIP UI Hidayana dan
Saefuddin, (1997) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku seksual yang
cukup mencolok pada remaja desa dan remaja kota di Sumatera Utara dan di
Kalimantan Selatan. Di kedua tempat penelitian itu terlihat adanya
kecenderungan perilaku seksual yang permisif baik di desa maupun di kota. Masih
banyak lagi hasil penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual
remaja pranikah.
Faktor-faktor
yang saling terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja pranikah
semakin menggejala akhir-akhir ini. Namun, banyak remaja tidak mengindahkan
bahkan tidak tahu atau seolah tidak peduli terhadap dampak dari perilaku
seksual mereka. Salah satu dampaknya adalah hamil yang tidak dikehendaki. Hal
ini membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau melakukan
aborsi. Kemudian tertular penyakit seksual. Hal ini disebabkan sering kali
remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman seperti kebiasaan berganti-ganti
pasangan dan melakukan anal seks. Dampak lainnya adalah konsekuensi psikologis.
Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan atau tepatnya korban utama dalam
masalah ini akan ditempatkan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis.
Dalam
pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga, yang
secara telak mencoreng nama baik keluarga dan ia adalah si pendosa yang
melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang
meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan
bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui
kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan,
dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada
pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan
mental yang tidak terpenuhi. Tidak jarang juga ditemukannya kasus bunuh diri
akibat tidak tahannya remaja tersebut menghadapi semua dampak yang mereka
terima.
Adanya
dampak tersebut menyebabkan mereka yang semula diharapkan menjadi subjek
pembangunan justru akan menjadi beban dari pembangunan itu sendiri. Oleh karena
itu, dampak yang ditimbulkan oleh perilaku seksual remaja pranikah merupakan
akar masalah yang harus segera diatasi dan perlu dicegah. Melihat jumlah remaja
yang cukup besar tersebut tidak menutup kemungkinan perilaku seksual remaja pranikah
dan dampak yang ditimbulkannya akan menjadi salah satu masalah sosial di
Indonesia yang akan semakin mewabah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar