Rabu, 31 Oktober 2012

PROMOSI KESEHATAN KB


Penyuluhan KB adalah kegiatan penyampaian informasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga dan masyarakat guna mewujudkan keluarga berkualitas. Tugas penyuluhan KB meliputi persiapan penyuluhan, pelaksanaan penyuluhan dan pembinaan generasi muda. Dalam penyuluhan KB  terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar mampu mengubah perilaku kelompok sasaran (1).
Di dalam program KB dikenal istilah Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang merupakan proses penyampaian dan penerimaan pesan dalam rangka meningkatkan dan memanfaatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat, dan mendorongnya agar secara sadar menerima program KB. KIE yang responsif gender adalah salah satu pendekatan dalam komunikasi yang bertujuan mempercepat perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Perlunya KIE terutama bagi perempuan disebabkan banyak dari mereka yang masih belum paham tentang hal-hal penting yang terkait dengan kesehatan mereka (1).
Jenis pendekatan lain yang sering digunakan dalam program KB adalah Komunikasi Inter Personal/Konseling (KIP/K). KIP/Konseling merupakan suatu bentuk tatap muka dua arah antara klien dan petugas yang dilakukan dengan sengaja dan bertujuan membantu kliennya mengambil keputusan sesuai keinginannya secara sadar dan sukarela. Untuk itu, petugas seyogyanya peka gender dalam proses konseling, klien merasa puas dan tidak merasa diabaikan (2). Melalui proses KIE dan konseling yang berkeadilan gender, diharapkan tumbuh kerjasama di antara laki-laki dan perempuan dalam upaya mewujudkan keluarga berkualitas dan berkeadilan gender karena penyuluhan KB juga perlu memperhatikan dan melibatkan para suami. Rendahnya tingkat partisipasi KB dan tingginya kehamilan berisiko ternyata disebabkan karena tidak dilibatkannya para suami dalam penyuluhan. Suami adalah pengambil keputusan dalam keluarga, termasuk penentuan jumlah anak. Penyuluhan KB tidak saja perlu ditujukan bagi kelompok masyarakat yang sudah berkeluarga (PUS), melainkan juga kepada kelompok remaja, dengan penekanan informasi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan masing-masing kelompok umur ini (1).
Selain pendekatan dalam komunikasi, juga diperlukan pelayanan KB yang merupakan kegiatan pemberian fasilitas kepada keluarga dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dalam mewujudkan keluarga berkualitas. sedangkan tugas pelayanan KB mencakup persiapan pelayanan, pelaksanaan pelayanan dan pengembangan model pelayanan (1).
Keberhasilan program KB mengendalikan tingkat kelahiran di Indonesia selama lebih dari tiga dekade tidak terlepas dari peran petugas Penyuluh Keluarga Berencana (PKB). Posisi PKB diyakini sangat strategis dalam proses penggerakan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan KB di tingkat akar rumput. Peran PKB memotivasi dan membina akseptor KB dan menjaga hubungan komunikasi dengan keluarga binaan. Keberhasilan ini tergantung kepiawaian PKB meyakinkan calon klien KB untuk mengadopsi metode ber-KB (3). Mengingat keterbatasan jumlah PKB/PLKB yang tidak seimbang dengan luas wilayah dan jumlah kelompok sasaran , maka dalam program KB, dikembangkan konsep Kader KB, yakni kelompok masyarakat yang secara sukarela bersedia membantu tugas penyuluhan dan pelayanan PKB (1).
Upaya pencegahan dan penurunan AKI (Angka Kematian Ibu) akibat kehamilan risiko tinggi pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”, yaitu (4):
a.   Keluarga Berencana, yang memastikan bahwa setiap orang/pasangan memiliki akses ke informasi dan pelayanan KB agar dapat merencanakan waktu yang tepat untuk kehamilan, jarak kehamilan dan jumlah anak. Dengan demikian diharapkan tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan, yaitu kehamilan yang masuk dalam kategori “4 terlalu”(terlalu muda atau terlalu tua untuk kehamilan, terlalu sering hamil dan terlalu banyak anak).
b.    Pelayanan antenatal, untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin, dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.
c.       Persalinan yang aman, memastikan bahwa semua penolong persalinan memiliki pengetahuan, ketrampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi.
d.  Pelayanan obstetri esensial, memastikan bahwa pelayanan obstetri untuk risiko tinggi dan komplikasi tersedia bagi ibu hamil yang membutuhkannya.
Dalam intervensi ini, salah satunya yaitu akses terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan yang mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu.

Dapus: 
1.  Puspita, Dyah Retna. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh Keluarga Berencana dan dampaknya pada kinerja kader KB di tiga kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Bogor, 2011.
2.  Parwieningrum, Endang. Gender dalam KB/KR. Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan, BKKBN. 2007.
3.      Kurniawan, Ukik K., Hadi Pratomo., Adang Bachtiar. Kinerja penyuluhan Keluarga Berencana di Indonesia: Pedoman pengujian efektivitas kinerja pada era desentralisasi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 2010; 5 (1): 3-8.
4.    Fibriana, Arulita Ika. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian maternal. Universitas Diponegoro. Tesis. Semarang, 2007.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar