Sabtu, 08 Desember 2012

PENCEMARAN UDARA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Udara merupakan zat yang paling penting setelah air dalam memberikan kehidupan di permukaan bumi ini. Selain memberikan oksigen, udara juga berfungsi sebagai alat penghantar suara dan bunyi-bunyian, pendingin benda-benda yang panas, dan dapat menjadi media penyebaran penyakit pada manusia. Udara merupakan campuran mekanis dari bermacam-macam gas. Komposisi normal udara terdiri atas gas nitrogen 78,1%, oksigen 20,93% dan karbondioksida 0,03%, sementara selebihnya berupa gas argon, neon, krypton, xenon, dan helium. Udara juga mengandung uap air, debu, bakteri, spora, dan sisa tumbuh-tumbuhan.
Masalah pengotoran udara sudah lama menjadi masalah kesehatan pada masyarakat. Pembangunan yang berkembang pesat khususnya dalam bidang industri dan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan komposisi udara melampaui daya dukung lingkungan, hal ini dapat berdampak negatif terhadap manusia, yaitu pencemaran udara atau polusi. Polusi atau pencemaran udara adalah masuknya komponen lain ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung, tidak langsung, atau akibat proses alam sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang kondusif, setiap substansi yang bukan merupakan bagian dari komposisi udara normal disebut sebagai polutan.
Dalam batas-batas tertentu, alam mampu membersihkan udara dengan cara membentuk suatu keseimbangan ekositem yang disebut removal mechanism. Proses yang terjadi dapat berupa pergerakan udara, hujan, sinar matahari, dan fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Pada suatu keadaan ketika pencemaran yang terjadi melebihi kemampuan alam untuk membersihkan dirinya sendiri, pencemaran itu akan membahayakan kesehatan manusia dan memberikan dampak yang luas terhadap fauna, flora, dan terhadap ekosistem yang ada.

B.  Rumusan Penulisan
1.      Apa definisi, proses, jenis  dan alat deteksi/monitor pencemaran udara?
2.      Bagaimana mekanisme terjadinya pencemaran udara?
3.      Apa saja akibat dari pencemaran udara?
4.      Bagaimana cara penanggulangan permasalahan pencemaran udara?

C. Tujuan Penulisan
a.      Tujuan umum :
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami  tentang permasalahan pencemaran udara.
b.     Tujuan Khusus :
1.      Menambah pengetahuan tentang definisi dari pencemaran udara.
2.      Mengetahui proses dan jenis pencemaran udara.
3.      Mengetahui mekanisme terjadinya pencemaran udara.
4.      Mengetahui akibat dari pencemaran udara.
5.      Mengetahui cara penanggulangan dalam masalah pencemaran udara.

D. Manfaat Penulisan
1.   Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang definisi, proses, jenis  dan alat deteksi/monitor pencemaran udara.
2. Dapat mengetahui mekanisme terjadinya pencemaran udara, akibat, serta penanggulangannya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pencemaran Udara
Polusi atau pencemaran udara adalah dimasukkannya komponen lain ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung maupun akibat proses alam sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkatan tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Setiap substansi yang bukan merupakan bagian dari komposisi udara disebut sebagai pollutan.
Pencemaran udara merupakan kondisi terjadinya perubahan (pengurangan atau penambahan komposisi udara) dibandingkan keadaan normal, dalam waktu, tempat dan konsentrasi tertentu sedemikian rupa sehingga membahayakan kehidupan dan kesehatan masyarakat. Pencemaran udara selain memberikan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat juga memberikan dampak terhadap pertanian, perkebunan, peternakan, bangunan, jembatan, transportasi (udara, darat) dan sebagainya.

B.     Proses Pencemaran Udara
1.      Ekosistem dari udara
Melalui ekologi kita ketahui bahwa udara merupakan salah satu unsure dari sistem ekologi yang luas, yang merupakan salah satu kelompok unsur-unsur abiotik. Unsur abiotik (atmosfer, hidrosfer, litosfer) yang tergolong sebagai salah satu lingkungan fisik, di samping unsure tanah dan air yang kita kenal. Baik tanah, air, maupun udara dengan berbagai unsur lingkungan lain (biotis). Unsur biotik (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme) yang secara alamiah memiliki suatu interaksi yang kompleks.
2.      Pengaruh pencemaran terhadap perubahan sistem udara
Sumber-sumber pencemaran karena tangan manusia saat ini terus bertambah mulai dari pembakaran dari industri, pembakaran bahan-bahan bakar pada alat transportasi, sampai pembakaran sampah. Bahan-bahan buangan ke dalam udara akan memberikan pengaruh terhadap kelestarian, stabilitas, dan kualitas lingkungan udara, sehingga timbul fenomena efek rumah kaca (green house effects).
            Berikut ini adalah pengaruh dari green house effects:
a.   Bertambahnya kadar CO2 dalam udara. Gas CO2 mempunyai pengaruh penyerapan energy radiasi sinar matahari.
b. Pengaruh partikel-partikel terhadap keseimbangan panas permukaan ”bumi-atmosfer”.
c.       Pengaruh perubahan cuaca/iklim karena pemborosan penggunaan tenaga.
3.      Mekanisme pencemaran udara
Adanya polutan di dalam udara umumnya berasal dari aktivitas manusia dan jarang terjadi secara alamiah. Perkembangan teknologi yang pesat serta pola konsumtif yang berlebihan telah menimbulkan efek samping berupa polutan yang berpengaruh terhadap komposisi udara di atmosfer. Di lain pihak, proses-proses yang terjadi di dalam atmosfer bergantung pada jenis kontaminan. Berikut ini adalah beberapa jenis kontaminan yang ada di atmosfer:
a.      Kontaminan CO2 dan CO
CO2 sebagai absorder panas dan menghambat terrestrial radiation kepada udara. CO adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon. Jika gas CO masuk ke dalam tubuh akan mengakibatkan berkurangnya kapasitas darah untuk menyalurkan CO2 kepada jaringan-jaringan tubuh.
b.      Senyawa-senyawa oksida nitrogen (NOx)
Senyawa-senyawa Oksida Nitrogen (NOx) dihasilkan dari pusat-pusat pembakaran (seperti pada industri, transformasi pusat-pusat pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan gas alam). Ada tiga macam bentuk NOx yang memiliki sifat berbeda, yaitu N2O (Nitrous Oxide), NO (Nitric Oxide), dan NO2 (Nitrogen Dioksida). Di udara bebas, sifat gas N2O (pollutant primer) akan lebih banyak menyerap seluruh sinar ultraviolet. Nitrous Oxide memaikan peranan penting dalam perubahan iklim di bumi. NO merupakan gas yang tidak stabil dan di udara akan teroksidasi menjadi N2O. N2O merupakan gas yang toksik bagi manusia dan pada umumnya mengganggu sistem pernapasan.
c.       Belerang Oksida (SOx)
Belerang Oksida SOx terdiri atas sulfur dioksida (SO2) dan gas sulfur trioksida (SO3). SO2 buatan berasal dari pembakaran bahan minyak bumi, gas, dan batu bara. Sedangkan SO2 alami berasal dari gunung merapi, pembusukan bahan organik oleh mikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Pada konsentrasi 500 ppm SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia, gas ini menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan kenaikan sekresi mucous. Gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan uap air untuk membentuk asam sulfat (H2SO4), sehingga dapat menimbulkan hujan asam.
d.     Partikel. Menurut Wardhana (1995) partikel dapat berupa:
·         Aerosol, yaitu partikel yang melayang di udara;
·         Fog/kabut, yaitu aerosol yang berupa butiran air yang berada di udara;
·  Smoke/asap, yaitu aerosol campuran antara butir padatan dan cairan yang melayang di udara;
·    Dust/debu, yaitu aerosol butir padatan terhambur di udara karena hembusan angin;
·          Mist/kabut, yaitu butiran-butiran zat cair yang terhambur di udara;
·         Fume, yaitu aerosol berasal dari kondensasi uap logam biasanya dari pengecoran dan peleburan logam;
·         Plume, yaitu asap suatu industri;
·         Smog, yaitu campuran antara smoke dan fog.
4.      Jenis pencemaran udara dan akibatnya
Pertumbuhan penduduk yang pesat meningkatkan semua keperluan hidup. Keperluan hidup itu terus berkembang berkat adanya kemajuan-kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi ini selain memberi kemudahan dan kenikmatan ternyata juga meninggalkan sejumlah masalah. Salah satu masalah yang dihadapi oleh manusia akibat kemajuan teknologi adalah pencemaran. Pengertian dari pencemaran ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan suatu lingkungan. Peristiwa pencemaran ini mempunyai tiga hal pokok, yaitu:
            1)      Lingkungan yang terkena pencemaran adalah lingkungan hidup;
            2)     Yang terkena dampak,  makhluk yang penghuninya di dalam lingkungan tersebut;
            3)      “bahan berbahaya” yang disebabkan oleh makhluk hidup (manusia).
Pada saat ini polusi telah menimbulkan kekhawatiran bagi manusia, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di kota-kota besar dan di kawasan industri. Menurut para ahli meteoreologi mengatakan bahwa “ polusi udara tidak hanya meliputi kota-kota besar saja, tetapi juga telah meliputi keseluruhan atmosfer bumi”.

C.    Jenis Pencemaran Udara
Berdasarkan sumbernya, pencemaran udara dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Aktivitas manusia.
a      .      Berasal dari industri dan pertambangan (bahan kimia, minyak bumi, pengolahan tambang).
b          .      Berasal dari kendaraan bermotor (gas CO, CO2, NO, karbon, hidrokarbon).
c          .       Oleh ekses dari pembangunan.
d         .     Berasal dari pembakaran segala bahan-bahan buangan (sampah dan lain-lain).
2.      Dari faktor alam (kebakaran hutan).

Berdasarkan pengelompokannya, pencemaran udara dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Gas/uap (NO, CO, SO2, hidrokarbon, hidrogen, ammonia, dan lain-lain).
2.      Partikel (aerosol, debu, fume, droplet, abu, logam).

Berdasarkan partikelnya, pencemaran udara dibagi empat, yaitu:
1.      Debu yang mengakibatkan fibrosis si dalam paru-paru (debu silica).
2.      Debu-debu karbon.
3.      Debu-debu yang menimbulkan alergi (debu, kayu, debu organik).
4.      Debu-debu yang menimbulkan iritan (asam-asam, alkali fluoride, dan kromat).

D.    Akibat Pencemaran Udara
Berikut ini adalah akibat yang ditimbulkan dari pencemaran udara:
1.      Menurut fisiologisnya. Pencemaran udara dapat menimbulkan keradangan terhadap permukaan mukosa saluran pernapasan.
2.      Terhadap lingkungan. Pencemaran udara berpengaruh terhadap benda-benda mati:
            a)      Bahan logam mengalami perkaratan dan penyusutan berat (SO2, asam berupa gas);
            b)     Bahan bangunan mengalami perubahan warna dan pucat (SO2);
            c)      Lukisan/gambar menjadi pudar, perubahan warna (SO2, H2S, partikelnya);
            d)     Tekstil mudah rapuh (SO2, dan acis gases);
            e)      Kulit, permukaan bertepung mudak lunak/nyoyot, (SO2, dan acid gases);
            f)       Pada bahan karet mudah pecah-pecah dan lunak (oksidan).
3.      Terhadap masyarakat. Pencemaran udara di masyarakat dapat berupa gas/uap dan juga partikel-partikel/debu. Pencemaran udara yang berupa gas dapat menyebabkan infeksi pernapasan akut, bronchitis kronik, bronchial asthma, dan kanker paru. Pencemaran udara dari bahan partikel dapat menyebabkan pharyngitis, pneumoconiosis, alergi, iritan, dan lain-lain.

E.     Penanggulangan Pencemaran Udara
Pokok Penanggulangan
Pada prinsipnya pencemaran udara dapat ditempuh menjadi empat pokok penanggulangan yang masing-masing bersifat sebagai suatu pendekatan.
1.     Pendekatan teknologi. Pendekatan teknologi  ditujukan kepada faktor sumber emisi beserta segala sesuatu yang menjalin sebagai subsistem. Berikut ini adalah tindakan pendekatan teknologi.
a)      Mengembangkan jalan bay pass pada kendaraan umum maupun pengembangan sarana jalan yang lain.
b)    Mengharuskan industri besar melakukan “in plant treatment” sebelum water effluent maupun industrial waste product.
c) Melengkapi industri-industri yang menghasilkan asap/debu dengan dust exhauster, agar debu tidak terlalu banyak bertebaran di udara atau lingkungan terbuka dan tersebar di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, perlu pengembangan industrial hygiene and safety secara multiinstantional.
Langkah dan tindakan dengan pendekatan teknologi merupakan pengendalian pencemaran melalui perubahan proses dalam subsistem sumber emisi dan pengendalian sumber emisi melalui cara-cara pembuangan kontaminan.
2.      Pendekatan planologis. Pendekatan planologis merupakan suatu tindakan agar kita tetap sadar terhadap permasalahan yang diakibatkan oleh jumlah pembangunan yang overload. Pendekatan planologis ditujukan pada penataan lingkungan fisik agar secara timbal balik dapat diperkirakan menimpa reseptor. Adanya pendekatan secara planologis diharapkan akan tercipta suatu lingkungan hidup (perkotaan) yang mampu menjamin rasa aman, keindahan, maupun persyaratan hidup higienis dan sosial yang lebih baik. Beberapa pokok langkah planologis yang perlu memperoleh perhatian dalam perencanaan di antaranya adalah melokalisasi daerah sumber emisi dengan cara menerapan pencatatan daerah kota dalam berbagai zonifikasi dengan layout masing-masing peranan dari zonafikasi tersebut. Pada umunya kita dapat membagi daerah kota dalam empat zonafikasi. (a) daerah non industri, (b) daerah industri, (c) zona pusat-pusat pemerintahan kota dan tempat-tempat pergudangan/perbengkelan, (d) zona bagi intercity transport.
3.  Pendekatan administratif. Pendekatan administratif yang digunakan meliputi seluruh penerapan produk-produk hukum yang sesuai, tata kerja aparatur pemerintah. Pendekatan yang akan mengikat semua pihak mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku karena merupakan ketentuan hukum (law enforcement).
4. Pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif merupakan tindakan yang melibatkan masyarakat untuk berpatisipasi dalam membina dan memelihara kebersihan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya dan menghindari pendirian industri yang bertentangan dengan hinder-ordonansi. Pendekatan edukatif dilakukan dan diperkembangkan untuk membina serta memberikan penerangan kepada masyarakat dengan memotivasi maupun membangkitkan kesadaran masyarakat untuk ikut memelihara kelestarian lingkungan hidup.

F.      Alat Deteksi/Monitor Pencemaran Udara
Untuk mengetahui tingkat pencemaran oleh suatu polutan digunakan alat yang dapat mengurangi emisi dalam pencemaran. Berikut ini adalah alat yang dapat mengurangi emisi:
1.      Absorder, alat berbentuk tabung yang mengandung reagen untuk penyerap polutan.
2.      Absorder dengan silica gel untuk sampling ozon dan hidrokarbon.
3.      Kondensor, alat ini bekerja dengan menangkap dan mengondensasi gas, sehingga dapat diketahui kandungan gas tersebut.
4.      Kolektor, alat yang bekerja dengan menyerap gas dengan jalan mengurangi tekanan di dalamnya.
5.      Sampler, untuk analisis spektrometris.

Berikut ini adalah alat yang digunakan untuk mengurangi partikel polutan:
1.      Alat sedimentasi, hasil sedimentasi dapat digunakan untuk serbuk tanaman.
a)      Ringlemann cards, cara kerja secara photometris untuk penentuan kuantitatif secara kasar dengan relief kedalaman yang berbeda-beda yang tersusun secara skaler mulai dari putih sampai berturut-turut kehitaman (tiga skala).
b)     Alat impinge, alat ini menangkap partikel berupa aerosol.
2.      Filter yang terbuat dari bahan gula, Kristal asam salisil/plastik. Filter ini digunakan bila partikel yang akan ditentukan sulit dipisahkan dari filter yang telah menyaringnya.
a)      Cyclone, alat ini digunakan untuk menangkap partikel-pertikel dengan gaya trifugal.
b)     Presipitator, alat ini bekerja secara kaloris.
c)      Presipitator elektrostatik.

Cara Analisis
Selain cara di atas, terdapat juga alat yang digunakan untuk detektor maupun untuk pengukuran kuantitas dari pencemaran di udara. Berikut ini adalah beberapa alat yang bekerja dengan analisis kimia:
1.      Emission spectrometric.
2.      Absorption spectrometric.
3.      X-ray spectrometric.
4.      Mass spectrometric.
5.      Polarografic.
6.      Alat mikroskopis khusus.
7.      Alat yang meneruskan panas.

 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Masalah pengotoran udara sudah lama menjadi masalah kesehatan pada masyarakat. Pembangunan yang berkembang pesat khususnya dalam bidang industri dan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan komposisi udara melampaui daya dukung lingkungan, hal ini dapat berdampak negatif terhadap manusia, yaitu pencemaran udara atau polusi.
Pencemaran udara merupakan kondisi terjadinya perubahan (pengurangan atau penambahan komposisi udara) dibandingkan keadaan normal, dalam waktu, tempat dan konsentrasi tertentu sedemikian rupa sehingga membahayakan kehidupan dan kesehatan masyarakat. Pencemaran udara selain memberikan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat juga memberikan dampak terhadap pertanian, perkebunan, peternakan, bangunan, jembatan, transportasi (udara, darat) dan sebagainya.

B.     Saran
1.      Diharapkan bagi pihak pemerintah untuk dapat melakukan berbagai pendekatan dalam menanggulangi permasalahan pencemaran udara secara efektif dan efisien.
2.      Bagi masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan agar tidak terjadi pencemaran udara dengan cara mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, tidak membakar sesuatu di tengah keramaian penduduk, dan lain-lain.
3.      Bagi pemilik perusahaan-perusahan industri, diharapkan dapat menggunakan alat yang dapat mengurangi emisi dan partikel polutan agar tidak memperburuk pencemaran udara.


DAFTAR PUSTAKA

1.        Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
2.        Herlina, Sri. 2011. Buku Ajar Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin.
3.        Mubarak, Wahid Iqbal., Nurul Chayatin.2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Penerbit Salemba Medika. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar